Puasa Ramadan Ajarkan Kesabaran dan Menjaga Diri dari Maksiat
Puasa Ramadhan merupakan salah satu nikmat besar yang diberikan Allah SWT kepada umat Islam. Selain sebagai kewajiban, ibadah puasa juga menjadi sarana bagi seorang muslim untuk melatih kesabaran sekaligus menjaga diri dari berbagai bentuk kemaksiatan.
Puasa
Ramadhan merupakan salah satu nikmat besar yang diberikan Allah SWT kepada umat
Islam. Selain sebagai kewajiban, ibadah puasa juga menjadi sarana bagi seorang
muslim untuk melatih kesabaran sekaligus menjaga diri dari berbagai bentuk
kemaksiatan.
Hal tersebut disampaikan Ustadz
Rohmat Ali Hidayat dalam kajian shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro yang
mengingatkan jamaah untuk senantiasa mensyukuri berbagai karunia Allah SWT,
termasuk nikmat kesehatan dan kekuatan yang memungkinkan umat Islam menjalankan
ibadah puasa, Kamis (5/3/2026).
Dalam kajian tersebut dijelaskan
bahwa kemampuan menjalankan ibadah, termasuk puasa Ramadhan, merupakan anugerah
besar dari Allah yang patut disyukuri. Tanpa pertolongan dan kemudahan dari
Allah SWT, manusia tidak akan mampu melaksanakan ibadah dengan baik.
Puasa sendiri merupakan ibadah yang
sangat diagungkan oleh Allah SWT. Mengutip pendapat Imam Al-Ghazali, ibadah
terbagi menjadi dua sisi utama. Pertama adalah syadrun
lil-iktisab, yaitu sisi menjalankan ketaatan kepada Allah SWT
seperti melaksanakan salat, zakat, maupun haji.
Sisi kedua adalah syadrun
lil-ijtinab, yaitu menahan diri atau menjauhi berbagai hal yang
dilarang oleh Allah SWT. Bahkan disebutkan bahwa salah satu bentuk ibadah yang
paling utama adalah meninggalkan maksiat.
Dalam kehidupan sehari-hari,
menjalankan ketaatan sering kali terasa lebih mudah dibandingkan menahan diri
dari kemaksiatan. Misalnya ketika berkumpul bersama teman atau kerabat,
seseorang terkadang tanpa sadar terlibat dalam perbincangan yang mengarah pada
ghibah atau membicarakan keburukan orang lain.
Padahal, kemampuan menahan diri
dari perbuatan tersebut merupakan bentuk ibadah yang sangat mulia di sisi Allah
SWT. Imam Al-Ghazali menyebutkan bahwa meninggalkan segala larangan Allah
memiliki nilai yang sangat agung.
Rasulullah SAW juga bersabda bahwa
puasa merupakan setengah dari kesabaran, sedangkan kesabaran adalah setengah
dari iman. Hal ini menunjukkan adanya keterkaitan yang sangat erat antara
puasa, kesabaran, dan keimanan seorang muslim.
Ustadz Ali Rohmad Hidayatullah
mengatakan puasa sebagai benteng atau perisai yang melindungi manusia dari
berbagai perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT. Di dalam ibadah puasa
terkandung berbagai bentuk kesabaran, mulai dari sabar dalam menjalankan
ketaatan, sabar meninggalkan kemaksiatan, hingga sabar ketika menghadapi
kesulitan.
“Seseorang yang menjalankan puasa
harus bersabar untuk melaksanakan berbagai ibadah, seperti bangun pagi, datang
ke masjid, bersedekah, dan melakukan berbagai amal kebaikan lainnya. Selain
itu, puasa juga menuntut kesabaran untuk menahan diri dari perbuatan maksiat”,
ujarnya di hadapan jamaah
Bentuk kesabaran lainnya adalah
kesabaran ketika menghadapi rasa lelah, lapar, dan dahaga selama menjalankan
puasa, terutama bagi mereka yang tetap harus bekerja dan menjalankan aktivitas
sehari-hari.
Ia kembali menjelaskan bahwa keutamaan
puasa juga sangat istimewa karena ganjarannya langsung diberikan oleh Allah
SWT. Berbeda dengan ibadah lainnya yang memiliki ukuran pahala tertentu, pahala
puasa tidak disebutkan secara pasti karena Allah sendiri yang akan memberikan
balasannya.
Dalam sebuah hadits qudsi
disebutkan bahwa semua amal manusia akan dilipatgandakan pahalanya, kecuali
puasa. Puasa adalah ibadah khusus untuk Allah SWT dan Dia sendiri yang akan
memberikan ganjarannya.
Hal ini karena orang yang berpuasa
meninggalkan makan, minum, dan berbagai keinginan lainnya semata-mata karena
Allah SWT. Oleh sebab itu, puasa menjadi ibadah yang memiliki kedudukan sangat
mulia.
Melalui ibadah puasa, seorang
muslim tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih diri untuk
mengendalikan hati serta menjaga anggota tubuh dari berbagai perbuatan yang
dilarang.
Dengan demikian, puasa tidak hanya
berdampak pada aspek fisik, tetapi juga memperkuat keimanan. Dalam ajaran
Ahlussunnah wal Jamaah disebutkan bahwa amal perbuatan merupakan syarat
kesempurnaan iman.
“Iman tidak cukup hanya dengan
keyakinan di dalam hati, tetapi harus disertai dengan amal dan ibadah. Oleh
karena itu, menjalankan puasa dengan penuh keikhlasan dan istiqamah diharapkan
dapat menjadikan seorang muslim semakin sempurna imannya di hadapan Allah SWT”
imbuhnya.
Melalui ibadah puasa Ramadan, umat Islam diharapkan mampu meningkatkan kualitas diri, memperkuat kesabaran, serta menjauhi berbagai bentuk kemaksiatan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah dan menjadikan umat Islam sebagai hamba yang beriman secara sempurna.