Puasa sebagai Perisai dan Jalan Menuju Surga
Bojonegoro - Memasuki hari keenam Ramadhan, suasana kajian Shubuh dipenuhi ajakan untuk menjadikan ibadah puasa sebagai wasilah atau jalan agar kelak menjadi penghuni surga pada yaumul qiyamah. KH. Alamul Huda Mansyur mengingatkan jamaah agar tidak sekadar berharap dapat bertemu Ramadhan tahun depan, tetapi juga mempersiapkan diri dengan amal terbaik, Selasa (24/2/2026).
Bojonegoro
- Memasuki hari keenam Ramadhan, suasana kajian Shubuh dipenuhi ajakan untuk
menjadikan ibadah puasa sebagai wasilah atau jalan agar kelak menjadi penghuni
surga pada yaumul qiyamah. KH. Alamul Huda Mansyur mengingatkan jamaah agar
tidak sekadar berharap dapat bertemu Ramadhan tahun depan, tetapi juga
mempersiapkan diri dengan amal terbaik, Selasa (24/2/2026).
Dalam tausiyahnya, beliau mengajak
jamaah merenungi kenyataan bahwa tidak semua orang yang berdoa agar
dipertemukan kembali dengan Ramadhan benar-benar mendapat kesempatan tersebut. Beliau
menyinggung wafatnya salah satu tokoh masjid, almarhum Haji Warsito, yang
dikenal aktif menggerakkan dan menjaga kegiatan masjid. “Kita sering berdoa
ingin bertemu Ramadhan berikutnya, tetapi ketentuan Allah bisa berbeda,”
ujarnya, seraya mengajak jamaah mengirimkan doa Al-Fatihah.
Mengutip sabda Muhammad, Gus Huda menyampaikan bahwa puasa
adalah perisai (junatun). Artinya, puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga,
tetapi juga menahan diri dari perbuatan aniaya, pertengkaran, dan ucapan buruk.
Bahkan ketika seseorang dicaci atau disakiti, orang yang berpuasa dianjurkan
mengatakan, “Saya sedang berpuasa.”
Gus Huga juga menjelaskan hadist
yang menyebutkan bahwa ketika Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka
ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Namun demikian, beliau mengingatkan bahwa
makna “setan dibelenggu” harus dibarengi dengan kesungguhan menjaga diri.
“Kalau kita masih gemar berbuat maksiat, mudah marah, dan berkata kasar, maka
perisai itu akan lapuk,” tegasnya.
Lebih lanjut, Gus Huda membagi
tingkatan puasa menjadi tiga. Pertama, puasa orang awam, yakni menahan lapar
dan dahaga tetapi belum mampu menjaga lisan dan perilaku. Kedua, puasa orang
khusus, yaitu mereka yang mampu mengendalikan emosi, tidak sombong saat dipuji
dan tidak marah saat dihina. Ketiga, puasa orang istimewa, yakni mereka yang
sepenuhnya berorientasi pada rida Allah SWT, tidak terpengaruh pujian maupun
celaan, serta tidak terikat ambisi duniawi.
Menurutnya, tingkatan ketiga adalah
derajat para kekasih Allah, para nabi dan wali. Orang yang mencapai derajat ini
tidak diliputi rasa takut atau sedih dalam urusan dunia, melainkan hanya
khawatir terhadap keselamatan akhiratnya.
Di akhir tausiyah, jamaah diajak meningkatkan kualitas puasa agar minimal mencapai derajat kedua, yakni mampu menjaga diri lahir dan batin. “Semoga Ramadhan ini benar-benar menjadi wasilah, penyebab kita kelak dijadikan penghuni surga oleh Allah SWT,” pungkasnya.
