Detail Berita

Ragam Bentuk Ibadah

Bojonegoro — Jamaah shalat Subuh kembali mengikuti pengajian rutin di Masjid Agung Darussalam. Dalam kajian kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah As-Sakandari, Ustadz Rifki mengajak umat Islam menjaga konsistensi ibadah dengan memvariasikan bentuk-bentuk penghambaan agar tidak dilanda kejenuhan, Jum’at (26/12/2025).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro Jamaah shalat Subuh kembali mengikuti pengajian rutin di Masjid Agung Darussalam. Dalam kajian kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah As-Sakandari, Ustadz Rifki mengajak umat Islam menjaga konsistensi ibadah dengan memvariasikan bentuk-bentuk penghambaan agar tidak dilanda kejenuhan, Jum’at (26/12/2025).

Pengajian diawali dengan pembacaan basmalah, hamdalah, serta shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Suasana khusyuk menyertai rangkaian doa sebelum materi disampaikan.

Dalam tausiyahnya, Ustadz Rifki menyinggung konsep tajalli, yakni keyakinan bahwa tanda-tanda kebesaran Allah dapat disaksikan melalui ciptaan-Nya. Menurutnya, manusia mengenal sifat-sifat Tuhan melalui perenungan atas makhluk dan peristiwa di sekitarnya.

“Ketika melihat kekuatan, kita ingat Allah Maha Kuat. Saat melihat kasih sayang, kita ingat Allah Maha Pengasih. Semua itu jalan untuk mengenal-Nya,” ujarnya.

Ia kemudian menjelaskan hikmah di balik beragamnya bentuk ibadah dalam Islam. Keragaman tersebut, kata dia, bukan tanpa tujuan, melainkan agar manusia tidak jenuh dan tetap bersemangat menempuh jalan pengabdian kepada Allah.

Mengutip penjelasan ulama tasawuf, ia mengatakan bahwa bila ibadah hanya satu jenis dan diwajibkan terus-menerus, manusia berpotensi merasa bosan lalu meninggalkannya. Karena itu, Allah mensyariatkan banyak pilihan, mulai dari shalat, zikir, membaca Al Quran, sedekah, puasa, hingga haji.

“Kalau lelah dengan satu amalan, bisa beralih ke amalan lain. Tujuannya supaya perjalanan menuju Allah tidak terputus,” katanya.

Menurut Ustadz Rifki, kenyamanan batin yang dirasakan saat beribadah, seperti ketenangan ketika tahajud atau manisnya berzikir, merupakan karunia agar seorang hamba tetap bertahan dalam ketaatan.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa selingan atau hiburan tetap harus proporsional. Aktivitas mubah, seperti rekreasi atau olahraga, dapat menjadi “obat” untuk menyegarkan pikiran, selama tidak berlebihan dan tidak melalaikan kewajiban.

“Istirahat itu perlu, tapi sesuai dosis. Jangan sampai yang mubah justru mengalahkan ibadah,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya kualitas dalam beramal. Ibadah yang dilakukan dengan sepenuh hati, meski sedikit, dinilai lebih utama daripada banyak amalan yang dijalankan dengan malas atau terpaksa.

“Ibarat emas satu kilogram dibandingkan pasir satu truk. Sedikit, tapi bernilai,” tuturnya.

Menutup pengajian, Ustadz Rifki mengajak jamaah terus menjaga semangat beribadah, berpindah dari satu kebaikan ke kebaikan lain, serta menjadikan setiap aktivitas sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah.

Pengajian Subuh tersebut menjadi pengingat bahwa istiqamah tidak hanya ditopang oleh banyaknya amalan, tetapi juga oleh kebijaksanaan mengelola hati, ritme, dan kesungguhan dalam beribadah.