Detail Berita

Ragam Jalan Kebaikan dan Keutamaan Ilmu di Akhir Zaman

Bojonegoro — Kajian Kitab Riyadhus Sholihin di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kali ini membahas tentang banyaknya jalan kebaikan dalam kehidupan seorang muslim. Dalam tausiyahnya, Ustadz Rifki Azmi menguraikan bahwa amalan kebaikan tidak hanya satu bentuk, melainkan memiliki ragam yang luas serta dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori utama, Sabtu (25/10/2025).

Kajian Riyadhus Sholihin

Bojonegoro — Kajian Kitab Riyadhus  Sholihin di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kali ini membahas tentang banyaknya jalan kebaikan dalam kehidupan seorang muslim. Dalam tausiyahnya, Ustadz Rifki Azmi menguraikan bahwa amalan kebaikan tidak hanya satu bentuk, melainkan memiliki ragam yang luas serta dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori utama, Sabtu (25/10/2025).

Ia menjelaskan, amalan dapat dilakukan melalui tubuh seperti salat, zikir, membaca Al-Qur’an, dan iktikaf di masjid. Kategori kedua ialah amalan yang berkaitan dengan harta, seperti zakat, sedekah, hibah, wakaf, maupun wasiat. Sementara kategori ketiga merupakan gabungan keduanya, contohnya ibadah haji yang menuntut kesiapan fisik sekaligus bekal materi.

Mengutip pandangan Imam Ahmad Rifai, Ustadz Rifki menyebut jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah sebanyak hembusan napas semua makhluk. “Amal kebaikan tidak dapat dihitung jumlahnya. Namun bila diringkas, dapat dipahami melalui tiga bentuk utama itu,” ujarnya dalam kajian tersebut.

Ia juga menyinggung kondisi umat di akhir zaman sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, bahwa pada masa tertentu ilmu menjadi lebih utama daripada amal. Minimnya ulama yang benar-benar berilmu menjadi sebab pentingnya menuntut ilmu agama. “Menghidupkan majelis ilmu merupakan ibadah paling utama pada masa ini,” katanya mengutip pesan Imam Al-Ghazali dalam Hidayatul Hidayah.

Kajian kemudian berlanjut dengan pembahasan hadis tentang sedekah. Ustadz Rifki menerangkan bahwa setiap bentuk zikir seperti tasbih, tahmid, tahlil dan takbir dinilai sebagai sedekah. Perintah kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran pun memiliki nilai serupa. Hal itu menjadi kabar gembira bagi kaum fakir yang tidak mampu bersedekah dengan harta.

“Semua peluang kebaikan telah Allah buka luas, agar setiap orang dapat beramal tanpa batas status sosial. Bahkan menyingkirkan duri atau benda yang membahayakan dari jalan pun bernilai amal,” ujarnya.

Selain itu, Ustadz Rifki juga menegaskan pentingnya menjaga kebersihan masjid, termasuk kewaspadaan terhadap najis yang bisa menghalangi sahnya ibadah. Petugas kebersihan masjid diingatkan agar teliti, sebab mereka memikul tanggung jawab ibadah seluruh jamaah.

Sebelum menutup kajian, ia menekankan hikmah dari banyaknya ragam ibadah. Setiap orang memiliki kecenderungan dalam bentuk kebaikan yang berbeda, sehingga Allah membuka pintu-pintu pahala melalui jalan yang beragam. “Zikir bagi sebagian orang terasa lebih menyentuh. Bagi yang lain, salat malam memberikan kenikmatan tersendiri. Semua itu adalah rahmat dari Allah,” pungkasnya.

Kajian sore itu ditutup dengan doa serta harapan agar seluruh jamaah diberikan kemampuan untuk terus menapaki berbagai jalan kebaikan menuju ridha Allah SWT.