Detail Berita

Rajab Momentum Memperbaiki Diri

Bojonegoro — Memasuki bulan Rajab, jamaah pengajian diingatkan untuk memperbanyak doa, puasa sunah, serta menjaga kualitas ibadah sebagai persiapan menyambut Ramadan. Dalam ceramahnya usai shalat berjamaah, KH. Abdul Aziz menekankan pentingnya kesehatan, umur panjang yang berkah, serta kesungguhan mendekatkan diri kepada Allah, Senin (22/12/2025).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro Memasuki bulan Rajab, jamaah pengajian diingatkan untuk memperbanyak doa, puasa sunah, serta menjaga kualitas ibadah sebagai persiapan menyambut Ramadan. Dalam ceramahnya usai shalat berjamaah, KH. Abdul Aziz menekankan pentingnya kesehatan, umur panjang yang berkah, serta kesungguhan mendekatkan diri kepada Allah, Senin (22/12/2025).

Pengajian diawali dengan pembacaan syahadat, shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, dan doa bersama. Penceramah mengajak jamaah mensyukuri nikmat sehat. Menurutnya, kesehatan merupakan modal utama untuk beribadah.

“Kita boleh memohon panjang umur, tapi umur yang dipakai untuk taat kepada Allah. Rasulullah pun mengajarkan doa agar dipertemukan dengan Ramadan,” ujarnya.

Beliau mengutip doa yang kerap dibaca ulama, yakni memohon keberkahan di bulan Rajab dan Syaban serta kesempatan menjumpai Ramadan. Bulan-bulan tersebut, katanya, merupakan momentum memperbanyak latihan ibadah, seperti puasa sunah dan dzikir.

Namun, beliau mengingatkan agar beribadah secara seimbang dan tidak memaksakan diri. Meneladani ajaran Rasulullah, ibadah hendaknya dilakukan sesuai kemampuan fisik. “Badan juga punya hak untuk istirahat. Jangan sampai memforsir diri hingga sakit,” tuturnya.

Beliau mencontohkan kisah para sahabat yang tetap menjaga keseimbangan antara ibadah, keluarga, dan kebutuhan jasmani. Prinsipnya, setiap bagian kehidupan memiliki hak yang harus dipenuhi secara proporsional.

Selain mendorong peningkatan ibadah, KH. Abdul Aziz menyinggung kondisi sosial keagamaan yang dinilainya memerlukan kewaspadaan. Beliau mengutip sejumlah hadis tentang tanda-tanda akhir zaman, seperti salat yang mulai ditinggalkan, maraknya fitnah, caci maki, kebohongan, suap, hingga perzinaan.

Fenomena tersebut, menurut Beliau, menjadi pengingat agar umat Islam memperkuat benteng diri dengan memperbanyak berada di masjid, menjaga lisan, serta mengurangi hal-hal yang berpotensi menimbulkan fitnah. “Jaga ucapan, jaga pergaulan, dan dekatkan diri ke masjid. Itu tempat yang paling aman bagi orang beriman,” katanya.

Beliau juga mengajak jamaah melakukan muhasabah atau introspeksi diri, mengingat kematian dapat datang kapan saja. “Umur terus berkurang. Jangan sampai kita lalai. Perbaiki amal sebelum datang waktu yang tidak bisa ditunda,” ujarnya.

Pengajian ditutup dengan doa bersama agar jamaah diberi kesehatan, keselamatan, serta kesempatan menyambut Ramadan dalam keadaan terbaik.

Tausiyah tersebut menjadi pengingat bahwa bulan Rajab bukan sekadar penanda kalender hijriah, melainkan momentum memperbaiki diri dan memperkuat kesiapan spiritual menuju bulan suci.