Detail Berita

Ramadhan dan Nikmat Keamanan

Kajian Shubuh Ramadhan di Masjid Agung Darussalam menghadirkan Ustadz Kholilul Rochman. Dalam tausiyahnya, ia mengajak jamaah untuk mensyukuri nikmat kesehatan dan keamanan yang masih dirasakan sehingga dapat menjalankan ibadah puasa dengan tenang, Rabu (4/3/2026).

Kuliah Shubuh

Kajian Shubuh Ramadhan di Masjid Agung Darussalam menghadirkan Ustadz Kholilul Rochman. Dalam tausiyahnya, ia mengajak jamaah untuk mensyukuri nikmat kesehatan dan keamanan yang masih dirasakan sehingga dapat menjalankan ibadah puasa dengan tenang, Rabu (4/3/2026).

Di awal kajian, Ustadz Kholilul Rochman mengingatkan bahwa kesempatan menjalani sisa umur dalam keadaan sehat, terlebih di bulan suci Ramadhan, merupakan karunia besar dari Allah SWT.

“Semoga dengan kita mengucapkan alhamdulillah, Allah senantiasa menjaga nikmat itu sampai ajal menjemput,” ujarnya di hadapan jamaah.

Ia juga menyoroti nikmat keamanan yang dirasakan masyarakat Indonesia. Menurutnya, situasi aman membuat umat Islam bisa beribadah dengan khusyuk tanpa rasa takut. Ia membandingkan dengan kondisi di sejumlah negara yang tengah dilanda konflik dan peperangan.

“Kalau kita berada di wilayah perang, tentu sulit menjalankan Ramadhan dengan tenang,” katanya.

Karena itu, ia mengimbau jamaah untuk senantiasa berprasangka baik kepada para pemimpin dan mendoakan agar bangsa ini tetap diberi kedamaian serta stabilitas.

Dalam tausiyahnya, Ustadz Kholilul Rochman mengutip hadits Nabi Muhammad SAW tentang keutamaan puasa Ramadhan. Ia menjelaskan bahwa siapa yang berpuasa dengan iman dan penuh pengharapan pahala (imanan wahtisaban), maka Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya.

Ia menegaskan pentingnya keyakinan bahwa ibadah yang dilakukan, seperti puasa, salat tarawih, tadarus, dan sedekah, merupakan perintah Allah SWT, bukan sekadar kebiasaan tahunan.

“Imanan artinya kita percaya dan yakin bahwa ini murni perintah Allah, bukan karena tradisi atau perintah siapa pun,” jelasnya.

Sementara itu, makna wahtisaban diartikan sebagai keikhlasan dalam menjalankan ibadah, semata-mata mengharap ridha Allah SWT tanpa pamrih. Menurutnya, puasa adalah ibadah yang sangat personal dan sulit dipamerkan kepada orang lain, sehingga seharusnya menjadi ladang keikhlasan.

“Puasa itu untuk Allah dan Allah sendiri yang akan membalasnya,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan bahwa Allah SWT Maha Mengetahui segala perbuatan hamba-Nya, termasuk dosa yang dilakukan siang dan malam. Namun demikian, pintu ampunan selalu terbuka bagi siapa saja yang mau mengakui kesalahan dan memohon ampun dengan sungguh-sungguh.

Terkait perbedaan pendapat ulama mengenai apakah pengampunan di bulan Ramadhan mencakup dosa kecil atau juga dosa besar, ia menegaskan bahwa hak mengampuni sepenuhnya milik Allah SWT.

“Yang mengampuni adalah Allah. Tugas kita hanya memohon ampun,” tegasnya.

Menutup tausiyahnya, Ustadz Kholilul Rochman mengajak jamaah untuk menjalankan puasa dengan keyakinan dan keikhlasan penuh, serta menyerahkan sepenuhnya balasan kepada Allah SWT. Ia berharap Ramadhan menjadi momentum pengampunan dosa dan perbaikan diri bagi seluruh umat Islam.

Kajian ditutup dengan doa dan istighfar bersama, memohon agar Allah SWT menerima seluruh amal ibadah dan mengampuni dosa-dosa umat Islam di bulan suci ini.