Ramadhan sebagai “Fasilitas” Penghapus Dosa
Bojonegoro, Lantunan pujian “Marhaban ya Ramadhan” kembali menggema di berbagai masjid saat memasuki bulan suci. Di Masjid Agung Darussalam, pujian itu disebut sebagai simbol kegembiraan sekaligus penanda kemuliaan Ramadhan yang selalu dinantikan umat Islam. Dalam kajian Shubuh, Ustadz Agus Sholahuddin menyampaikan bahwa pujian tersebut hanya disenandungkan pada bulan Ramadhan. Kekhasan itu, menurut dia, bukan sekadar tradisi, melainkan ekspresi syukur karena kembali dipertemukan dengan bulan p
Bojonegoro,
Lantunan pujian “Marhaban ya Ramadhan” kembali menggema di berbagai masjid saat
memasuki bulan suci. Di Masjid Agung Darussalam,
pujian itu disebut sebagai simbol kegembiraan sekaligus penanda kemuliaan Ramadhan
yang selalu dinantikan umat Islam.
Dalam kajian Shubuh, Ustadz Agus
Sholahuddin menyampaikan bahwa pujian tersebut hanya disenandungkan pada bulan Ramadhan.
Kekhasan itu, menurut dia, bukan sekadar tradisi, melainkan ekspresi syukur
karena kembali dipertemukan dengan bulan penuh rahmat, Kamis (19/2/2026).
Ia mengisahkan generasi terdahulu
yang meneteskan air mata saat mendengar pujian Ramadhan. “Tangisan itu bukan
kesedihan, melainkan kebahagiaan karena masih diberi umur panjang untuk kembali
bersua dengan Ramadhan,” ujarnya.
Menurut dia, Ramadhan merupakan
“fasilitas” dari Allah bagi hamba-Nya untuk melebur dosa. Ia mengutip sejumlah
hadis tentang ibadah sebagai penghapus kesalahan. Shalat lima waktu, misalnya,
disebut sebagai kaffarah
(pelebur dosa) di antara dua waktu shalat. “Shalat Subuh menghapus dosa antara
Isya hingga Subuh. Zuhur menghapus dosa antara Subuh hingga Zuhur, dan
seterusnya,” tuturnya.
Selain harian, terdapat pula
pelebur dosa yang bersifat tahunan, yakni Ramadhan yang satu menuju Ramadhan
berikutnya. Dalam hadis riwayat Al-Tirmidzi,
Rasulullah Muhammad SAW menyebut ciri orang celaka, di antaranya mereka yang
mendengar nama Nabi disebut tetapi enggan bershalawat, mereka yang bertemu Ramadhan
namun tidak terampuni dosanya, serta mereka yang memiliki orangtua lanjut usia
tetapi tidak memanfaatkannya sebagai jalan meraih surga.
Ustadz Agus Sholahuddin menegaskan,
Ramadhan adalah momentum yang memudahkan ketaatan. Banyak orang yang di luar Ramadhan
merasa berat melangkah ke masjid atau bersedekah, tetapi menjadi ringan saat
bulan puasa tiba. “Ramadhan adalah bulan ketika hati lebih mudah digerakkan
untuk mencintai kebaikan dan membenci kemaksiatan,” katanya.
Sebaliknya, ia mengingatkan istilah
mahrum,
yakni orang yang terhalang dari kebaikan di bulan Ramadhan. Mereka yang tidak
mampu memanfaatkan kemuliaan Ramadhan dikhawatirkan akan semakin sulit berbuat
baik pada bulan-bulan berikutnya. “Jika di bulan yang penuh kemudahan saja kita
berat beribadah, apalagi di luar Ramadhan,” ujarnya.
Ia mengibaratkan Ramadhan seperti
mesin cuci bagi pakaian kotor. Jika pakaian dimasukkan berulang kali tetapi
tetap tidak bersih, maka pakaian itu layak dibuang. “Demikian pula jika Ramadhan
berlalu tetapi dosa kita tidak berkurang, itu pertanda ada yang salah dalam
ibadah kita,” katanya.
Di akhir tausiyah, ia mengajak
jamaah memanfaatkan setiap kesempatan beribadah selama Ramadhan. Sekecil apa
pun kebaikan, lanjutnya, akan dilipatgandakan pahalanya. “Bukan semata soal
besar kecilnya pahala, melainkan komitmen kita sebagai hamba untuk menjalankan
ajaran Nabi Muhammad SAW,” ujarnya.
Tausiyah ditutup dengan doa bersama agar seluruh jamaah diberi kelancaran dan keikhlasan dalam menjalani ibadah Ramadhan tahun ini.
