Rasa Cinta, Modal Utama dalam Ibadah
Bojonegoro, Rasa cinta atau mahabbah kepada Allah dan Rasulullah disebut sebagai modal utama dalam menjalankan ibadah. Pesan itu disampaikan dalam kajian shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, Sabtu, (7/2/2026).
Bojonegoro,
Rasa cinta atau mahabbah
kepada Allah dan Rasulullah disebut sebagai modal utama dalam menjalankan
ibadah. Pesan itu disampaikan dalam kajian shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, Sabtu, (7/2/2026).
Dalam tausiyahnya, Ustadz Khotib
menekankan bahwa setiap manusia dianugerahi hati yang dapat merasakan sedih,
bahagia, lapang, maupun sempit. Namun, rasa senang terhadap suatu perkara,
khususnya dalam urusan ibadah, menjadi kunci agar segala sesuatu terasa ringan
dijalani.
“Perkara berat akan terasa ringan
jika dilandasi rasa senang. Perkara jauh terasa dekat, perkara sulit terasa
mudah,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ia mencontohkan datangnya bulan
Ramadhan. Umat Islam yang benar-benar mencintai Ramadhan akan menyambutnya
dengan gembira, meskipun di dalamnya terdapat kewajiban berpuasa yang secara
fisik menahan lapar dan dahaga. Rasa cinta itu, menurut dia, membuat ibadah
yang berat terasa ringan.
“Kalau memang senang kepada
Ramadhan, mestinya juga senang pada amaliyah di dalamnya,” katanya.
Mengutip sejumlah ulama, Ustadz
Khotib menjelaskan bahwa ada tiga tanda cinta kepada Allah. Pertama, lebih
memilih berbicara dengan Sang Kekasih dibandingkan dengan selain-Nya. Dalam
konteks ini, membaca Al Quran dipahami sebagai bentuk “berdialog” dengan Allah,
karena Al Quran merupakan kalamullah.
“Jika kita lebih senang membaca Al
Quran daripada hal-hal lain, itu tanda cinta kepada Allah,” ujarnya.
Ia mengakui, dalam praktiknya
banyak orang lebih mudah menghabiskan waktu berjam-jam dengan telepon seluler,
tetapi merasa berat membaca Al Quran dalam waktu singkat. Hal itu, menurut dia,
menunjukkan kecenderungan hati dan kebiasaan yang perlu diperbaiki.
Tanda kedua adalah lebih memilih
majelis bersama kekasih dibandingkan majelis lain. Bagi orang yang mencintai
ilmu, ia akan senang menghadiri majelis ilmu. Bagi yang mencintai Rasulullah,
ia akan senang menghadiri majelis shalawat.
“Kalau mengaku cinta kepada Allah,
maka senanglah ‘bermajelis’ dengan Allah, salah satunya melalui shalat,”
katanya.
Shalat, terutama pada malam hari,
digambarkan sebagai momentum seorang hamba seakan-akan berdua dengan Tuhannya.
Demikian pula shalawat dan doa, yang menjadi sarana menghadirkan rasa kedekatan
dengan Nabi Muhammad.
Adapun tanda ketiga adalah lebih
mengutamakan keridhaan Sang Kekasih daripada keridhaan selain-Nya. Orang yang
mencintai Allah, kata dia, akan berusaha menjalankan perintah-Nya dan menjauhi
larangan-Nya demi memperoleh ridha Ilahi.
“Ridha Allah menjadi tujuan utama,
meskipun mungkin tidak selalu disukai manusia,” ujarnya.
Dalam penutupnya, Ustadz Khotib
mengutip pernyataan ulama bahwa rasa cinta kepada Allah, meski hanya seberat
biji sawi, lebih utama daripada banyaknya ibadah tanpa cinta.
Ia mengajak jamaah menjadikan cinta
sebagai fondasi dalam beribadah. Dengan cinta, ketaatan tidak terasa sebagai
beban, melainkan kebutuhan dan kerinduan.
“Semoga kita termasuk hamba yang
diberi rasa mahabbah kepada Allah dan Rasul-Nya, sehingga ibadah kita membawa
keberkahan dan kemaslahatan,” tuturnya.
Pengajian ditutup dengan doa bersama, memohon agar seluruh jamaah senantiasa diberi keteguhan hati dan keselamatan dalam menjalani kehidupan.
