Rendah Hati dan Tidak Sombong atas Ilmu
Bojonegoro — Jamaah Masjid Agung Darussalam mengikuti pengajian tafsir Al Quran seusai shalat Subuh. Dalam kajian tersebut, KH. A. Maimun Syafi’i mengingatkan pentingnya sikap tawadhu atau rendah hati, terutama bagi mereka yang memiliki ilmu dan kemampuan lebih, Sabtu (27/12/2025).
Bojonegoro
— Jamaah Masjid Agung Darussalam mengikuti pengajian tafsir Al Quran seusai
shalat Subuh. Dalam kajian tersebut, KH. A. Maimun Syafi’i mengingatkan
pentingnya sikap tawadhu atau rendah hati, terutama bagi mereka yang memiliki
ilmu dan kemampuan lebih, Sabtu (27/12/2025).
Pengajian
dibuka dengan pembacaan doa dan shalawat. Materi utama mengulas tafsir Surat
Al-Kahfi ayat 109 tentang luasnya ilmu dan kalimat-kalimat Allah yang tidak
terbatas.
Mbah
Mun menjelaskan, ayat tersebut menggambarkan bahwa seandainya lautan dijadikan
tinta untuk menulis kalimat Allah, niscaya lautan itu akan habis sebelum ilmu
Allah selesai dituliskan. Bahkan, jika ditambah lautan lain pun tetap tidak
akan mencukupi.
“Ilmu
Allah tidak terbatas. Sedangkan ilmu manusia sangat sedikit,” ujarnya.
Menurut
Mbah Mun, pemahaman itu semestinya menumbuhkan kerendahan hati. Manusia,
betapapun pandai atau berpendidikan tinggi, tetap hanya memperoleh setetes
kecil dari samudra ilmu Tuhan.
Ia
mencontohkan fenomena banyaknya orang berilmu, baik santri, pelajar, maupun
akademisi yang hafal kitab atau Al Quran, namun tetap tidak pantas merasa
paling benar. Kesombongan, katanya, justru menutup pintu keberkahan ilmu.
“Semakin
tinggi ilmu, seharusnya semakin rendah hati, bukan malah merasa paling pintar,”
tuturnya.
Lebih
lanjut, Mbah Mun menyinggung teladan Nabi Muhammad SAW. Meski menerima wahyu,
Nabi tetap diperintahkan Allah untuk menyatakan diri sebagai manusia biasa. Hal
itu, menurut beliau, menjadi pelajaran bahwa kemuliaan spiritual tidak boleh
melahirkan kesombongan.
Selain
soal tawadhu, Mbah Mun juga mengingatkan bahaya riya atau pamer ibadah. Riya
disebut sebagai syirik tersembunyi karena seseorang beramal bukan sepenuhnya
karena Allah, melainkan demi penilaian manusia.
Mbah
Mun membedakan syirik besar yang tampak jelas, seperti menyembah berhala, dengan
syirik halus berupa niat beribadah karena ingin dipuji. “Salat atau sedekah
yang diniatkan agar dilihat orang bisa mengurangi nilai amal,” katanya.
Meski
demikian, jamaah diminta tidak putus asa bila masih merasakan gangguan niat.
Menurut Mbah Mun, yang terpenting adalah terus memperbaiki hati dan meluruskan
tujuan ibadah semata-mata karena Allah.
Menutup
pengajian, Mbah Mun mengajak jamaah memperbanyak amal saleh dengan niat tulus
serta mensyukuri setiap nikmat sebagai karunia Tuhan, bukan hasil kehebatan
diri.
Pengajian Subuh itu menjadi pengingat bahwa hakikat ilmu bukan sekadar pengetahuan, melainkan jalan untuk semakin mengenal kebesaran Allah sekaligus menumbuhkan kerendahan hati dalam kehidupan sehari-hari.
