Ridha pada Takdir Allah dan Menjaga Lisan, Kunci Bahagia Dunia Akhirat
Bojonegoro - Dalam suasana Subuh yang sejuk di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, lantunan doa dan zikir mengiringi kajian keagamaan yang disampaikan oleh Ustadz Hasan Nur. Ia mengajak jamaah untuk mensyukuri nikmat Allah dan meneladani empat pesan hikmah dari para ulama, sebagaimana termaktub dalam kitab-kitab suci terdahulu: Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur’an.
Bojonegoro
- Dalam suasana Subuh yang sejuk di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro,
lantunan doa dan zikir mengiringi kajian keagamaan yang disampaikan oleh Ustadz
Hasan Nur. Ia mengajak jamaah untuk mensyukuri nikmat Allah dan meneladani
empat pesan hikmah dari para ulama, sebagaimana termaktub dalam kitab-kitab
suci terdahulu: Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur’an.
Empat pesan tersebut, menurut Ustadz
Hasan Nur, menjadi kunci kebahagiaan dan keselamatan dunia serta akhirat.
Pertama, ridha
terhadap pemberian Allah, apa pun bentuknya. “Orang yang ridha
dengan ketentuan Allah, baik dalam nikmat maupun ujian, akan hidup tenang dan
bahagia di dunia hingga akhirat,” tuturnya di hadapan jamaah Subuh, Kamis
(23/10/2025).
Ia menekankan bahwa ridha bukan
sekadar menerima yang menyenangkan, tetapi juga ikhlas terhadap hal yang berat,
seperti sakit, kesulitan usaha, atau kerugian. “Kebanyakan manusia senang jika
diberi nikmat, tapi mengeluh ketika diuji. Padahal ridha sejati justru tampak
saat kita mampu menerima takdir yang tidak sesuai harapan,” ujarnya.
Pesan kedua adalah menundukkan
syahwat. Keinginan berlebih, katanya, sering ditunggangi setan dan
melahirkan perilaku berlebihan. Ia mencontohkan, “Makan satu piring cukup, tapi
kalau sudah tiga kali tambah, itu bukan kebutuhan, itu syahwat.” Ia menegaskan
bahwa orang yang mampu mengendalikan nafsunya adalah orang yang kuat dan bijak.
Pesan ketiga, tidak
bergantung pada pemberian manusia. Menurutnya, orang beriman
hendaknya menjaga kemandirian dan tidak berharap dari sesama, melainkan hanya
bergantung kepada Allah. “Kita ini punya pemberi yang paling besar: Gusti
Allah. Kalau terus berharap dari manusia, hidup jadi sempit. Tapi kalau
berharap hanya kepada Allah, hati jadi lapang,” ujarnya.
Keempat, menjaga lisan.
Dalam era media sosial, ia mengingatkan bahaya ucapan yang tidak terkendali.
“Banyak perpecahan, kebencian, bahkan perang yang bermula dari lisan,” katanya.
Ia mengutip pesan Al-Qur’an bahwa orang yang mampu menjaga lisannya akan
selamat dunia dan akhirat.
Dalam bagian akhir ceramah, Ustadz
Hasan Nur mengutip petuah Sayyidina Ali bin Abi Thalib bahwa agama akan tegak
selama dua kelompok orang menjaga amanahnya: orang kaya yang dermawan dan ulama yang
mengamalkan ilmunya. Ia menyoroti fenomena sebagian orang berharta yang enggan
berbagi, serta sebagian pengemban ilmu yang hanya pandai berkata, tetapi tidak
meneladani ajarannya.
“Masjid dan mushala bisa mangkrak
bukan karena kurang jamaah, tapi karena kurangnya orang yang mau menyalurkan
rezekinya. Dan agama bisa lemah kalau ulama berhenti mengamalkan ilmunya,”
katanya menegaskan.
Ia juga menyinggung tentang
pentingnya rendah hati bagi orang yang belum berilmu agar tidak merasa lebih
tahu dari para ulama. “Banyak yang baru tahu sedikit sudah merasa paling benar.
Padahal, kesombongan ilmu justru menjerumuskan,” ujarnya.
Mengakhiri tausiyah, ia
mengingatkan agar umat tetap bersabar dan teguh beribadah, termasuk bagi mereka
yang diuji dengan kefakiran. “Doa orang fakir yang sabar itu mustajab. Jangan
pernah merendahkan mereka, sebab doa mereka langsung menembus langit,” ucapnya.
Dengan suara lembut ia menutup
dengan doa, memohon agar jamaah diberi kesehatan, umur panjang, rezeki yang
berkah, dan akhir kehidupan yang husnul khatimah.
“Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada kita semua, agar mampu melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya,” tutupnya.
