Detail Berita

Sabar dan Tawakal dalam Menghadapi Ujian Kehidupan Sosial

Bojonegoro — Jamaah Masjid Agung Darussalam seperti biasa mengikuti kajian Subuh. Dalam kesempatan tersebut kajian disampaikan oleh Ustadz Khafif. Dalam paparannya ia menekankan pentingnya kesabaran dan tawakal dalam menghadapi ujian kehidupan sosial, terutama gangguan berupa ucapan maupun perlakuan tidak menyenangkan dari sesama, Rabu (17/12/2026).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro — Jamaah Masjid Agung Darussalam seperti biasa mengikuti kajian Subuh. Dalam kesempatan tersebut kajian disampaikan oleh Ustadz Khafif. Dalam paparannya ia menekankan pentingnya kesabaran dan tawakal dalam menghadapi ujian kehidupan sosial, terutama gangguan berupa ucapan maupun perlakuan tidak menyenangkan dari sesama, Rabu (17/12/2026).

Dalam tausiyahnya, Ustadz Khafif mengajak jamaah bersyukur atas nikmat iman dan Islam serta memohon agar keduanya terjaga hingga akhir hayat. Ia juga mengingatkan pentingnya istiqamah meneladani Nabi Muhammad SAW.

Kajian kemudian dilanjutkan dengan pembahasan kitab Mu’amalatul Mahbub karya Syekh Abu Thalib Al-Makki tentang tingkatan tawakal. Menurutnya, terdapat derajat “orang-orang khusus”, yakni mereka yang mampu bersabar atas cercaan dan gangguan tanpa membalas.

“Para nabi pun diperintahkan bersabar dan menjadikan Allah sebagai penolong. Maka sabar adalah jalan para rasul,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa luka karena ucapan sering kali lebih berat daripada luka fisik. Bentuknya dapat berupa gibah, adu domba, atau hinaan. Namun, sikap terbaik adalah tidak merespons keburukan tersebut.

Sejumlah kisah ulama disampaikan sebagai teladan, di antaranya Al-Ahnaf bin Qais yang tetap diam saat dicaci, serta Imam Syafi’i yang menolak mempercayai kabar adu domba. Menurut Ustadz Khafif, keburukan yang dilontarkan seseorang sejatinya mencerminkan kualitas dirinya sendiri.

“Kalau kita tidak menerima celaan itu, ia kembali kepada pelakunya,” katanya.

Ia juga mengisahkan sufi Ibrahim bin Adham yang dipukul hingga berdarah, tetapi justru mendoakan pelaku. Sikap tersebut dinilai sebagai wujud tawakal tingkat tinggi, yakni membalas keburukan dengan kebaikan.

Di akhir tausiyah, Ustadz Khafif merangkum tiga tingkatan sabar: menahan diri dari membalas, membersihkan hati dari dendam, dan membalas keburukan dengan ihsan. Menurutnya, gangguan dari manusia justru dapat menjadi jalan naiknya derajat seorang hamba di hadapan Allah.

Kajian ditutup dengan doa dan istighfar bersama. Pengurus masjid berharap nilai-nilai sabar dan tawakal yang disampaikan dapat diamalkan jamaah dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tercipta lingkungan masyarakat yang lebih damai dan saling menghargai.

Bottom of Form