Detail Berita

Salat Berjamaah Sumber Kekuatan Umat

Bojonegoro — Salat berjamaah tidak hanya bernilai ibadah personal, tetapi juga menjadi sumber kekuatan spiritual dan sosial umat Islam. Pesan tersebut disampaikan dalam kuliah shubuh di masjid yang diikuti jamaah dari berbagai kalangan, mulai dari orang tua hingga masyarakat sekitar, Senin (29/12/2025).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro — Salat berjamaah tidak hanya bernilai ibadah personal, tetapi juga menjadi sumber kekuatan spiritual dan sosial umat Islam. Pesan tersebut disampaikan dalam kuliah shubuh di masjid yang diikuti jamaah dari berbagai kalangan, mulai dari orang tua hingga masyarakat sekitar, Senin (29/12/2025).

Dalam tausiyahnya, KH. Abdul Aziz Ahmad mengajak jamaah mensyukuri nikmat kesehatan dan kesempatan beribadah, meski usia bertambah dan kondisi fisik semakin melemah. Ia menegaskan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi nilai ibadah. Bahkan, menurutnya, Allah menjanjikan pahala berlipat ganda bagi mereka yang tetap melangkahkan kaki ke masjid untuk salat berjamaah.

“Setiap langkah menuju masjid bukanlah sia-sia. Allah mengangkat derajat dan menghapus dosa-dosa hamba-Nya,” ujarnya.

KH. Abdul Aziz Ahmad mengingatkan bahwa salat berjamaah memiliki keutamaan jauh lebih besar dibandingkan salat sendiri di rumah. Selain pahala yang dilipatgandakan, jamaah juga merasakan ketenangan batin yang lahir dari kebersamaan dalam iman. Ia menyebut iman dan salat sebagai cahaya yang saling menguatkan ketika kaum muslimin berdiri dalam satu barisan.

Penekanan khusus juga disampaikan mengenai pentingnya merapatkan dan meluruskan saf. Menurutnya, kerapian barisan dalam salat mencerminkan persatuan umat. Rasulullah SAW, katanya, mencontohkan barisan salat yang lurus dan rapat sebagaimana barisan para malaikat, serta mengingatkan bahwa kelalaian dalam menjaga saf dapat menimbulkan perpecahan hati.

Dalam kajian tersebut, jamaah diajak merenungkan kekuatan kebersamaan umat Islam. KH. Abdul Aziz Ahmad mengutip kisah sejarah peradaban Islam, ketika salat berjamaah menjadi simbol persatuan yang begitu dijaga. Bahkan, dalam catatan sejarah, ada masa ketika kehadiran salat berjamaah dipantau karena dianggap sebagai fondasi kekuatan umat.

Selain itu, Beliau menekankan pentingnya silaturahmi sebagai kelanjutan dari nilai kebersamaan. Silaturahmi, menurutnya, menumbuhkan kasih sayang, memperpanjang umur, dan melapangkan rezeki. Sentuhan iman antar sesama muslim diyakini membangun kepercayaan dan kekuatan rohani yang besar dalam kehidupan bermasyarakat.

KH. Abdul Aziz Ahmad juga mengingatkan pentingnya kesempurnaan wudu sebagai kunci kekhusyukan salat. Wudu yang dilakukan dengan tenang dan benar, katanya, menjadi pintu utama keberhasilan ibadah. Ia mengimbau jamaah agar tidak tergesa-gesa dalam bersuci meski khawatir tertinggal rakaat, karena kualitas salat sangat bergantung pada kesempurnaan wudu.

Menjelang akhir ceramah, disampaikan pula anjuran untuk tidak langsung meninggalkan masjid setelah salat berjamaah. Duduk sejenak untuk berzikir, menurutnya, memiliki keutamaan besar karena malaikat terus-menerus memanjatkan doa ampunan dan rahmat bagi orang yang tetap berada di tempat salatnya.

Kajian ditutup dengan harapan agar jamaah senantiasa menjaga salat berjamaah, memperkuat silaturahmi, dan menumbuhkan kesadaran bahwa setiap amal, sekecil apa pun, akan menjadi penolong di akhir hayat. Kajian diakhiri dengan doa bersama agar umat Islam memperoleh rahmat, ampunan, dan keberkahan dalam kehidupan dunia dan akhirat.