Detail Berita

Sambut Ramadan dengan Persiapan Matang

Bojonegoro, Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, jamaah shalat Subuh di Masjid Darussalam diingatkan untuk menyambut “tamu agung” tersebut dengan persiapan spiritual yang serius dan terencana. Dalam tausiyahnya, Ustadz Hasan Nur mengajak jamaah bersyukur karena masih diberi kesempatan beribadah, termasuk menunaikan shalat Subuh berjamaah. Ia menekankan pentingnya menjaga kesehatan jasmani dan rohani agar dapat memasuki Ramadan dalam keadaan prima, Kamis (12/2/2026).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro, Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, jamaah shalat Subuh di Masjid Darussalam diingatkan untuk menyambut “tamu agung” tersebut dengan persiapan spiritual yang serius dan terencana.

Dalam tausiyahnya, Ustadz Hasan Nur mengajak jamaah bersyukur karena masih diberi kesempatan beribadah, termasuk menunaikan shalat Subuh berjamaah. Ia menekankan pentingnya menjaga kesehatan jasmani dan rohani agar dapat memasuki Ramadan dalam keadaan prima, Kamis (12/2/2026).

“Beberapa hari lagi kita akan berjumpa dengan bulan yang sangat istimewa. Sudahkah hati kita bergetar menyambutnya?” ujarnya di hadapan jamaah.

Ia mengutip sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa siapa yang bergembira menyambut Ramadan, Allah akan mengharamkan jasadnya dari api neraka. Menurutnya, kegembiraan itu menjadi tanda kesiapan iman, bahkan sebelum menjalankan puasa, tarawih, dan tadarus.

Ustadz Hasan Nur menegaskan, Ramadan merupakan keistimewaan yang secara khusus diberikan kepada umat Nabi Muhammad SAW. Karena itu, ia mengingatkan agar bulan tersebut tidak dilewatkan begitu saja tanpa peningkatan kualitas ibadah.

Ia menganjurkan jamaah menyusun “kurikulum Ramadan” secara pribadi. Mulai dari jadwal shalat sunnah seperti dhuha dan tahajud, target bacaan Al Quran, hingga sedekah harian. “Kalau perlu ditulis dan dijadwalkan. Supaya Ramadan tahun ini lebih baik dari sebelumnya,” katanya.

Sebagai contoh, ia menyarankan agar jamaah menargetkan jumlah khataman Al Quran yang lebih banyak dibanding Ramadan sebelumnya. Ia juga mengingatkan agar kebiasaan kurang produktif, seperti berlama-lama mengobrol tanpa manfaat, dihentikan selama Ramadan.

Mengutip hadis Nabi, ia menjelaskan bahwa ketika Ramadan tiba, pintu-pintu surga dibuka lebar, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Menurutnya, gambaran tersebut menunjukkan besarnya kesempatan meraih ampunan dan pahala.

“Kalau setan saja dibelenggu, lalu masih bermaksiat di siang hari Ramadan, itu pertanda ada yang salah pada diri kita,” ujarnya.

Ia juga menyinggung keutamaan puasa dan tilawah Al Quran yang kelak, menurut sejumlah riwayat, akan memberi syafaat di hari kiamat bagi orang yang mengamalkannya.

Dalam tausiyahnya, Ustadz Hasan menuturkan berbagai keutamaan Ramadan, termasuk dilipatgandakannya pahala ibadah. Ia menyebutkan bahwa satu amalan sunnah di bulan Ramadan dapat bernilai setara dengan amalan wajib di luar Ramadan, dan amalan wajib dilipatgandakan berkali-kali.

Ia juga menyinggung keutamaan umrah di bulan Ramadan yang pahalanya setara dengan haji, sebagaimana disebut dalam hadis Nabi.

Selain itu, ia mengutip pandangan ulama Mekkah, Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, yang menyatakan bahwa pada malam pertama Ramadan Allah memandang hamba-hamba-Nya dengan pandangan kasih sayang. Momentum tersebut, menurutnya, menjadi kesempatan besar untuk memperbanyak doa dan istighfar.

Di akhir tausiyah, jamaah kembali diajak memanfaatkan sisa waktu sebelum Ramadan untuk membersihkan hati dan memperkuat niat. Ia berharap seluruh jamaah diberi taufik dan hidayah agar dapat menjalani Ramadan dengan penuh semangat dan mencapai derajat takwa.

“Semoga kita dipertemukan dengan Ramadan dalam keadaan sehat dan mampu memaksimalkan ibadah,” tuturnya.

Tausiyah ditutup dengan doa bersama, memohon keberkahan umur, rezeki, keluarga, serta kesempatan meraih ampunan dan rahmat Allah di bulan suci yang segera tiba.