Detail Berita

Sejarah Turunnya Al-Qur’an

Bojonegoro – Kajian Shubuh rutin di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali digelar pada Sabtu, 7 Maret 2026. Kajian kali ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Rifki Azmi dengan materi tentang sejarah turunnya Al-Qur’an serta adab seorang muslim dalam mempelajarinya.

Kuliah Shubuh

Bojonegoro – Kajian Shubuh rutin di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali digelar pada Sabtu, 7 Maret 2026. Kajian kali ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Rifki Azmi dengan materi tentang sejarah turunnya Al-Qur’an serta adab seorang muslim dalam mempelajarinya.

Dalam pembukaan tausiyahnya, Ustadz Ahmad Rifki Azmi mengajak jamaah untuk bersyukur kepada Allah SWT karena masih diberi kesempatan menjalankan ibadah puasa, melaksanakan salat Shubuh berjamaah, serta mengikuti majelis ilmu.

“Alhamdulillah pagi hari ini kita masih diberikan taufik oleh Allah untuk berpuasa, melaksanakan salat Subuh berjamaah, dan melanjutkan kajian rutin. Semoga semua yang kita lakukan mendapatkan ridha dari Allah SWT,” ujarnya di hadapan jamaah.

Dalam kajian tersebut, Ustadz Rifki menjelaskan bahwa menurut pendapat para ulama yang kuat, Al-Qur’an diturunkan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah dari Lauhul Mahfudz ke langit dunia, kemudian tahap kedua dari langit dunia diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad SAW.

Ia menjelaskan bahwa hal ini dapat dipahami dari dua redaksi yang digunakan dalam Al-Qur’an, yaitu kata anzalna dan nazzala. Dalam ilmu bahasa Arab, kata yang memiliki penekanan tertentu menunjukkan proses yang dilakukan secara bertahap.

“Karena itu para ulama menjelaskan bahwa Al-Qur’an pertama kali diturunkan secara keseluruhan ke langit dunia, kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW sesuai dengan kebutuhan umat pada saat itu,” jelasnya.

Ustadz Rifki juga menerangkan adanya dua jenis urutan dalam Al-Qur’an, yaitu tartib mushafi dan tartib nuzuli.

Tartib mushafi adalah urutan Al-Qur’an sebagaimana yang terdapat dalam mushaf saat ini, dimulai dari Surat Al-Fatihah hingga An-Nas. Sementara itu, tartib nuzuli merupakan urutan turunnya ayat dan surat Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW.

Ia mencontohkan bahwa ayat pertama yang turun adalah surat Al-‘Alaq atau ayat “Iqra”, sementara Surat Al-Fatihah justru turun kemudian tetapi ditempatkan di awal mushaf karena memiliki kedudukan sebagai pembuka Al-Qur’an.

“Penempatan surat-surat dalam mushaf bukan tanpa hikmah. Dalam ilmu Al-Qur’an ada yang disebut ilmu munasabah, yaitu ilmu tentang keserasian dan keterkaitan antara ayat maupun surat,” terangnya.

Selain membahas proses turunnya Al-Qur’an, Ustadz Rifki juga menjelaskan sejarah pengumpulan mushaf Al-Qur’an pada masa para sahabat.

Pada masa Abu Bakar, pengumpulan Al-Qur’an dilakukan karena banyak penghafal Al-Qur’an yang wafat. Atas usulan Umar ibn al-Khattab, ayat-ayat Al-Qur’an yang sebelumnya tersebar di berbagai media seperti pelepah kurma, tulang, dan kulit hewan dikumpulkan menjadi satu.

Selanjutnya pada masa Uthman ibn Affan, dilakukan standarisasi mushaf Al-Qur’an untuk menghindari perbedaan bacaan yang dapat menimbulkan perselisihan di kalangan umat Islam. Standarisasi ini kemudian dikenal dengan istilah rasm Utsmani, yang menjadi dasar penulisan mushaf Al-Qur’an hingga saat ini.

Di akhir tausiyahnya, Ustadz Ahmad Rifki Azmi menyampaikan tiga hal yang perlu dimiliki seorang muslim agar dekat dengan Al-Qur’an.

Pertama adalah menjaga lisan. Ia menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai pribadi yang jujur dan tidak pernah berkata kotor atau menyakiti orang lain.

Kedua adalah sifat amanah. Sebelum menerima wahyu, Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai orang yang sangat dapat dipercaya dalam menjalankan setiap amanah yang diberikan kepadanya.

Ketiga adalah sikap uzlah, yaitu menjauhkan hati dari hal-hal duniawi yang dapat mengganggu hubungan dengan Allah SWT. Menurutnya, uzlah tidak harus dilakukan dengan menyendiri, tetapi dapat dilakukan dengan menjaga hati agar tidak terlalu terikat dengan urusan dunia.

“Jika kita ingin Al-Qur’an dekat dengan kehidupan kita, maka jagalah lisan, jadilah orang yang amanah, dan belajarlah menata hati agar tetap terhubung dengan Allah,” pesannya.

Kajian Shubuh tersebut berlangsung khidmat dan diikuti oleh jamaah Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang bertujuan memperdalam pemahaman keislaman masyarakat sekaligus memperkuat spiritualitas umat.