Detail Berita

Setiap Jiwa Akan Dihisab, Tak Ada yang Dikecualikan

Bojonegoro, Dalam kajian kitab Qutul Qulub al-Qulub fi Muamalatil Mahbub karya Syekh Abu Thalib al-Makki di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, Dr. Yogi Prana Izza,Lc, MA. mengajak para jamaah untuk merenungkan hakikat kehidupan dan balasan amal manusia di hari akhir, Rabu (15/10/2025).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro, Dalam kajian kitab Qutul Qulub al-Qulub fi Muamalatil Mahbub karya Syekh Abu Thalib al-Makki di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, Dr. Yogi Prana Izza,Lc, MA. mengajak para jamaah untuk merenungkan hakikat kehidupan dan balasan amal manusia di hari akhir, Rabu (15/10/2025).

Ustadz Yogi menjelaskan, sebagaimana termaktub dalam firman Allah Swt, bahwa setiap jiwa akan memperoleh balasan sesuai amal perbuatannya di dunia. Tidak ada seorang pun yang dikecualikan dari perhitungan amal, baik nabi, rasul, orang kaya, maupun miskin.

“Setiap orang akan datang kepada Allah sendirian. Tak ada keluarga, kelompok, atau sahabat yang bisa mendampingi. Di hari itu, setiap manusia akan sibuk dengan dirinya sendiri,” ujarnya.

Dalam penjelasannya, ia mengutip ayat-ayat Al-Qur’an yang menggambarkan kedahsyatan hari kiamat, saat hati manusia seakan melonjak hingga ke kerongkongan karena ketakutan. Pada hari itu, tidak ada penolong dan tidak ada yang mampu memberi syafaat, kecuali dengan izin Allah.

Ustadz Yogi menegaskan bahwa keadilan Allah bersifat mutlak. “Sekecil apa pun kebaikan akan dibalas berlipat ganda, dan keburukan akan dibalas setimpal. Allah tidak menzalimi hamba-Nya sedikit pun,” katanya seraya mengutip penafsiran Imam Ibnu Katsir.

Ia juga menjelaskan perbedaan antara amal kebaikan (kasabat) dan keburukan (iktasabat). Kebaikan, katanya, membawa ketenangan, sedangkan keburukan meski tampak menyenangkan, sejatinya menimbulkan beban batin.

“Ketika dosa menjadi kebiasaan, hati manusia bisa mati rasa. Ia tak lagi merasa bersalah. Itu bahaya besar bagi iman,” ujarnya.

Dalam bagian akhir ceramah, Ustadz Yogi mengingatkan pentingnya menerima nasihat sebagai bentuk kasih sayang sesama mukmin. Ia menuturkan kisah Sultan Maliksyah dari Dinasti Saljuk yang tersadar setelah dinasihati oleh seorang penyanyi agar memilih jalan halal.

“Orang yang menasihatimu adalah orang yang mencintaimu. Tetapi orang yang membiarkanmu dalam kesalahan, sesungguhnya sedang menipumu,” ucapnya mengutip Imam Haris al-Muhasibi.