Detail Berita

Syafaat Bukan Alasan Malas Beribadah

Bojonegoro, Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW tidak boleh dipahami sekadar sebagai jalan pintas menuju keselamatan akhirat. Umat Islam diingatkan untuk tidak menjadikan syafaat sebagai alasan bermalas-malasan dalam menjalankan perintah agama. Pesan tersebut disampaikan dalam kajian Shubuh di Masjid Agung Darussalam. Dalam tausiyahnya, Ustadz Kholil menekankan pentingnya meluruskan niat dalam bershalawat serta menempatkan Rasulullah sebagai utusan Allah yang membawa ajaran, bukan sekadar “penyel

Kuliah Shubuh

Bojonegoro, Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW tidak boleh dipahami sekadar sebagai jalan pintas menuju keselamatan akhirat. Umat Islam diingatkan untuk tidak menjadikan syafaat sebagai alasan bermalas-malasan dalam menjalankan perintah agama.

Pesan tersebut disampaikan dalam kajian Shubuh di Masjid Agung Darussalam. Dalam tausiyahnya, Ustadz Kholil menekankan pentingnya meluruskan niat dalam bershalawat serta menempatkan Rasulullah sebagai utusan Allah yang membawa ajaran, bukan sekadar “penyelamat” di hari akhir, Ahad (8/2/2026).

“Bershalawat itu minimal karena perintah Allah. Dalam Al Quran disebutkan, ‘Ya ayyuhalladzina amanu shallu ‘alaihi wa sallimu taslima’. Maka niat paling dasar adalah menjalankan perintah Allah,” ujarnya.

Ia mengingatkan, keliru apabila seseorang berpandangan bahwa kelak di akhirat ia tetap akan selamat meski semasa hidupnya abai terhadap kewajiban, dengan alasan akan mendapatkan syafaat Nabi. Menurut dia, Rasulullah diutus untuk mengajarkan perintah dan larangan Allah, agar umat melaksanakannya lebih dahulu.

“Kerjakan dulu ajarannya. Salat ditegakkan, zakat ditunaikan, puasa dijalankan. Jika semua itu sudah dilakukan, barulah berharap syafaat. Jangan sebaliknya, maksiat terus tetapi berharap masuk surga,” katanya.

Dalam penjelasannya, Ustadz Kholil menyebutkan bahwa surga memiliki banyak pintu. Ada pintu bagi orang yang rajin bersedekah, pintu bagi ahli puasa, pintu bagi ahli salat, serta pintu bagi mereka yang gemar membaca Al Quran.

Setiap orang, menurut dia, memiliki kesempatan berbeda sesuai dengan kemampuan dan kondisi hidupnya. Ada yang diberi kelapangan rezeki sehingga dapat memperbanyak sedekah. Ada pula yang tidak kaya, tetapi kuat berpuasa atau tekun beribadah.

“Masuk surga bukan semata-mata karena berharap di akhir nanti diselamatkan. Jalani dulu pintu-pintu amal yang sudah Allah buka,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Ustadz Kholil juga menyinggung keutamaan membaca Ayat Kursi setelah salat wajib. Ia mengutip hadis Nabi yang menyebutkan bahwa siapa yang membaca Ayat Kursi setiap selesai salat lima waktu, tidak ada yang menghalanginya masuk surga selain kematian.

Namun, ia menegaskan bahwa hadis tersebut harus dipahami secara utuh. Membaca Ayat Kursi tidak bisa dipisahkan dari pelaksanaan salat wajib.

“Salatnya dulu ditegakkan. Setelah itu baru membaca Ayat Kursi. Jangan dibalik,” katanya.

Ia menjelaskan, pembacaan zikir dan Ayat Kursi secara jahr (dikeraskan) setelah salat berjamaah juga memiliki nilai edukatif. Jamaah yang belum sempat belajar secara formal dapat perlahan-lahan menghafal melalui kebiasaan mendengar berulang-ulang.

“Karena sering mendengar, lama-lama hafal. Ini salah satu hikmah zikir dibaca keras,” ujarnya.

Ustadz Kholil juga mengingatkan pentingnya ketepatan makhraj dan panjang pendek bacaan, terutama dalam membaca Ayat Kursi. Kesalahan kecil dalam pengucapan dapat mengubah makna ayat.

Ia mendorong jamaah untuk terus belajar dan tidak malu memperbaiki bacaan. Menurut dia, kekeliruan bukan alasan untuk berhenti membaca, melainkan dorongan untuk memperbaiki diri.

“Jangan karena takut salah lalu tidak membaca. Tetap dibaca, tapi dipelajari yang benar,” katanya.

Kajian shubuh ditutup dengan doa agar jamaah diberi kekuatan menegakkan salat lima waktu, membiasakan membaca Ayat Kursi setelahnya, serta diakui sebagai umat Nabi Muhammad SAW yang kelak berhak berkumpul bersama beliau di surga.