Detail Berita

Syafaat Nabi di Hari Kiamat

Bojonegoro – Suasana khidmat menyelimuti kajian kitab Riyadhus Sholihin yang digelar di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Dalam kajiannya, Ustadz Rifki mengupas panjang lebar tentang makna syafaat, peristiwa hari kiamat, hingga keteladanan para sahabat Nabi dalam menjaga amanah dan persatuan umat, Kamis, (26/2/2026).

Kajian Riyadhus Sholihin

Bojonegoro – Suasana khidmat menyelimuti kajian kitab Riyadhus Sholihin yang digelar di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Dalam kajiannya, Ustadz Rifki mengupas panjang lebar tentang makna syafaat, peristiwa hari kiamat, hingga keteladanan para sahabat Nabi dalam menjaga amanah dan persatuan umat, Kamis, (26/2/2026).

Kajian diawali dengan pembacaan Al-Fatihah yang dihadiahkan kepada Rasulullah SAW, para sahabat, keluarga beliau, para ulama, serta guru-guru yang telah mewariskan ilmu agama. Penceramah kemudian menjelaskan hadis tentang syafaat di hari kiamat, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Dalam penjelasannya, ia menggambarkan kondisi manusia saat hari kiamat yang diliputi kepanasan dan penderitaan luar biasa, hingga mereka memohon kepada para nabi agar meminta kepada Allah SWT supaya hisab (perhitungan amal) segera dimulai. Namun, Nabi Adam AS hingga Nabi Ibrahim AS menyatakan tidak memiliki wewenang untuk memberikan syafaat agung tersebut karena teringat akan kesalahan masing-masing.

Ustadz Rifki menegaskan bahwa syafaat agung (syafaat ‘udzma), yakni percepatan hisab, hanya dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW. Ketika seluruh manusia mendatangi beliau, Nabi Muhammad kemudian bersujud dan memuji Allah dengan pujian yang belum pernah diucapkan sebelumnya. Dari situlah, Allah SWT memberikan izin kepada beliau untuk memberi syafaat kepada umatnya.

“Di saat umat meniti shirath, Nabi Muhammad SAW berdiri di tepinya seraya berdoa, ‘Ya Rabb, selamatkan umatku,’” terang Ustadz Rifki, menggambarkan kasih sayang Rasulullah kepada umatnya.

Ia juga menjelaskan gambaran manusia saat melintasi jembatan shirath: ada yang melaju secepat kilat, ada yang seperti angin, ada pula yang merangkak sesuai kadar amal masing-masing. Sebagian terselamatkan, sementara sebagian lain terjatuh akibat dosa-dosa yang belum terampuni.

Selain membahas syafaat, Ustadz Rifki mengingatkan pentingnya menjaga silaturahmi dan amanah, terlebih menjelang momentum hari raya. Ia menekankan bahwa menyambung hubungan kekerabatan memiliki kedudukan penting dalam Islam.

Dalam pandangan mazhab Hanafi, silaturahmi kepada kerabat tertentu dihukumi wajib, sedangkan menurut mazhab Syafi’i, selama masih tergolong kerabat dekat menurut adat setempat, maka tetap dianjurkan untuk dijaga hubungan baiknya.

“Jangan sampai karena urusan harta atau persoalan dunia, hubungan keluarga terputus,” pesannya.

Ia juga menyinggung bahaya mengabaikan amanah, baik amanah dalam keluarga, harta, maupun tanggung jawab sosial.

Pada bagian akhir, kajian membahas peristiwa Perang Jamal yang melibatkan Sayyidah Aisyah RA dan Sayyidina Ali RA. Ustadz Rifki menekankan bahwa konflik tersebut dilatarbelakangi perbedaan ijtihad, bukan kebencian atau ambisi dunia.

Ia menjelaskan pandangan para ulama, seperti Imam Al-Ghazali, bahwa dalam perkara ijtihad, seorang mujtahid yang benar mendapat dua pahala, sedangkan yang keliru tetap mendapat satu pahala. Oleh karena itu, para sahabat tetap dihormati dan tidak boleh dicela.

“Meragukan keadilan sahabat sama saja membuka pintu keraguan terhadap hadis dan Al-Qur’an yang diriwayatkan melalui mereka,” tegasnya.

Kajian juga menyinggung kisah sahabat Zubair bin Awwam RA yang akhirnya mundur dari peperangan setelah mengingat hadis Nabi, serta pesan beliau kepada keluarganya agar melunasi seluruh utang sebelum membagikan warisan. Hal itu dijadikan pelajaran tentang pentingnya menunaikan hak sesama manusia (haqqul adami) sebelum hak lainnya.

Kajian ditutup dengan doa bersama memohon ampunan dan keselamatan bagi seluruh umat Islam.

Melalui kajian ini, jamaah diajak memperkuat keimanan kepada hari akhir, meneladani akhlak Rasulullah dan para sahabat, serta menjaga persatuan dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.