Tadarus Ramadan Hidupkan Ruh Al-Qur’an dan Hadirkan Ketenangan
Bojonegoro – Kegiatan tadarus Al-Qur’an menjadi penekanan utama dalam kajian Shubuh yang digelar di Masjid Agung Darussalam. Dalam tausiyahnya, KH. Agus Salim mengajak jamaah untuk menghidupkan ruh Ramadan dengan memperbanyak membaca dan mentadabburi Al-Qur’an, Sabtu (28/2/2026).
Bojonegoro – Kegiatan tadarus Al-Qur’an
menjadi penekanan utama dalam kajian Shubuh yang digelar di Masjid Agung Darussalam. Dalam tausiyahnya, KH.
Agus Salim mengajak jamaah untuk menghidupkan ruh Ramadan dengan memperbanyak
membaca dan mentadabburi Al-Qur’an, Sabtu (28/2/2026).
Di hadapan jamaah shalat Shubuh, KH.
Agus Salim menyampaikan harapan agar seluruh hadirin senantiasa diberikan
kesehatan lahir dan batin, kekuatan iman dan takwa, serta keteguhan dalam
beribadah selama bulan suci Ramadan.
Mengangkat tema “Tadarus Ramadan:
Menghidupkan Ruh Al-Qur’an”, beliau menjelaskan bahwa kata tadarus berasal dari
kata “darasa” yang berarti membaca dan mengkaji secara berulang-ulang. Ramadan
disebut sebagai Syahrul
Qur’an karena pada bulan inilah Al-Qur’an diturunkan sebagai
petunjuk bagi umat manusia (hudan linnas),
sekaligus pembeda antara yang hak dan yang batil (al-furqan).
“Segala aspek kehidupan sudah ada
tuntunannya dalam Al-Qur’an. Ketika diperintah berjalan ke kanan, maka ke
kananlah; ketika diperintah berhenti, maka berhentilah. Itulah makna Al-Qur’an
sebagai petunjuk hidup,” ujarnya.
Beliau juga mencontohkan teladan Muhammad yang setiap Ramadhan senantiasa
melakukan tadarus bersama Malaikat Jibril. Padahal, Nabi Muhammad adalah
penerima wahyu Al-Qur’an, namun tetap mengulang dan menyimak bacaan sebagai
bentuk kesungguhan menjaga kemurnian dan keutamaan kitab suci.
Menurutnya, tradisi tadarus yang
dilakukan secara berjamaah di masjid memiliki keutamaan tersendiri. Terlebih
lagi, Masjid Agung Darussalam disebut sebagai salah satu masjid tertua di
Bojonegoro, sehingga diharapkan keberkahan semakin terasa ketika Al-Qur’an
dibaca dan dikaji di dalamnya.
Dalam kesempatan tersebut, KH. Agus
Salim mengutip hadits riwayat Muslim ibn
al-Hajjaj dalam kitab Shahih Muslim yang
menyebutkan bahwa tidaklah suatu kaum berkumpul untuk membaca dan mempelajari
Al-Qur’an, melainkan ketenangan (sakinah) akan turun kepada mereka, rahmat
meliputi mereka, malaikat menaungi mereka, dan Allah menyebut mereka di hadapan
makhluk-Nya.
“Ketenangan itu nyata. Saat hati
gelisah, lalu berwudhu dan membaca Al-Qur’an, tiba-tiba hati menjadi adem dan
tenteram. Itulah janji Allah,” tuturnya.
Beliau menambahkan, bahkan hanya
dengan memandang mushaf Al-Qur’an pun seseorang bisa mendapatkan pahala.
Apalagi jika turut membaca, menyimak, atau mendukung kegiatan tadarus, semua
akan mendapatkan limpahan rahmat dan keberkahan.
Kajian Shubuh ditutup dengan doa agar Al-Qur’an menjadi pemberi syafaat di hari kiamat kelak, serta menjadi penolong dan penerang dalam kehidupan dunia.
