Tafsir Al Baqarah 185: Ramadan sebagai Bulan Kemudahan dan Penyucian
Bojonegoro, Kajian Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro mengangkat tafsir Surat Al Baqarah ayat 185 tentang bulan suci Ramadhan. Dalam tausiyahnya, Ustadz Yogi menekankan bahwa Ramadhan bukan sekadar kewajiban berpuasa, melainkan momentum penyucian diri dan penguatan relasi dengan Al Quran, Rabu, (18/2/2026).
Bojonegoro,
Kajian Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro mengangkat tafsir Surat Al
Baqarah ayat 185 tentang bulan suci Ramadhan. Dalam tausiyahnya, Ustadz Yogi menekankan
bahwa Ramadhan bukan sekadar kewajiban berpuasa, melainkan momentum penyucian
diri dan penguatan relasi dengan Al Quran, Rabu, (18/2/2026).
Mengawali
tausiyah, Ustadz Yogi mengajak jamaah mensyukuri nikmat iman dan Islam.
“Mudah-mudahan dua nikmat ini bisa kita jaga hingga akhir hayat dan kita wafat
dalam keadaan husnul khatimah,” ujarnya.
Ayat
yang dikaji berbunyi, “Syahrul Ramadan alladzi unzila fihil Quran, hudan
linnas wa bayyinatin minal huda wal furqan…” yang menegaskan bahwa Al Quran
diturunkan pada bulan Ramadan sebagai petunjuk bagi manusia dan pembeda antara
yang benar dan batil. Dalam ayat yang sama ditegaskan kewajiban berpuasa bagi
yang menyaksikan bulan tersebut, dengan keringanan bagi yang sakit atau
bepergian.
“Allah
menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesulitan,” kata Ustadz
Yogi mengutip bagian ayat yuridullahu bikumul yusra wala yuridu bikumul usra.
Ia
menjelaskan, kata syahr (bulan) dalam literatur tafsir klasik, antara
lain dalam Tafsir Ar Razi, berkaitan dengan makna kemasyhuran dan kejelasan
waktu. Penentuan bulan menjadi penting karena berkaitan dengan ibadah, termasuk
puasa dan haji, serta urusan sosial seperti jatuh tempo utang.
Adapun
kata “Ramadan”, menurutnya, diperselisihkan para ulama. Ada pendapat yang
menyebut Ramadan sebagai salah satu nama Allah, sehingga dianjurkan menyebut
“Syahr Ramadan” (bulan Ramadan), bukan sekadar “Ramadan”.
Pendapat
lain menyatakan Ramadan berasal dari kata yang bermakna “panas” atau
“membakar”. Dalam konteks ini, Ramadan dipahami sebagai bulan yang membakar
dosa-dosa. Ada pula yang mengaitkannya dengan tradisi mengasah tombak sebelum
perang, sehingga Ramadan dimaknai sebagai bulan mengasah spiritualitas.
“Ramadan
adalah momentum mengasah hati dan membersihkan diri dari dosa-dosa yang
menempel,” ujarnya.
Ia
mengibaratkan dosa-dosa kecil sebagai debu yang menempel sepanjang tahun. Puasa
menjadi sarana pembersihan agar hati siap menerima cahaya Al Quran.
Menurut
Ustadz Yogi, terdapat hubungan erat antara turunnya Al Quran dan diwajibkannya
puasa. Al Quran disebut sebagai cahaya petunjuk, sementara puasa berfungsi
membersihkan hati dari dominasi hawa nafsu dan kecenderungan duniawi.
“Hati
yang tertutup oleh kesibukan dunia sulit menerima cahaya Al Quran. Puasa
menjadi sarana penyuciannya,” katanya.
Ia
juga menjelaskan bahwa Al Quran memang diturunkan secara bertahap selama
sekitar 23 tahun, tetapi dalam riwayat disebutkan bahwa Al Quran diturunkan
sekaligus ke langit dunia pada bulan Ramadan sebelum diturunkan secara berangsur
sesuai peristiwa.
Dalam
konteks hukum, ia menyinggung kaidah tafsir bahwa yang menjadi pegangan adalah
keumuman lafaz ayat, bukan semata-mata sebab khusus turunnya. Karena itu, meski
suatu ayat turun karena peristiwa tertentu, hukumnya bisa berlaku umum.
Dalam
bagian lain, Ustadz Yogi memaparkan perbedaan pendapat ulama tentang kewajiban
puasa bagi orang yang bepergian. Sebagian sahabat, seperti Ali bin Abi Thalib
dan Ibnu Abbas, berpendapat bahwa seseorang yang telah mukim saat awal Ramadan
wajib menyempurnakan puasa sebulan penuh, meskipun kemudian bepergian.
Namun,
mayoritas ulama berpendapat bahwa keringanan berbuka tetap berlaku bagi musafir
yang memenuhi syarat jarak, karena sebabnya adalah kondisi safar, bukan
semata-mata kehadiran di awal bulan.
Ia
juga menyinggung perbedaan metode penentuan awal Ramadan, antara rukyat
(melihat hilal) dan hisab (perhitungan astronomi). Perbedaan ini, menurutnya,
telah ada sejak masa ulama terdahulu.
“Perbedaan
pendapat ini bagian dari khazanah keilmuan Islam,” ujarnya.
Menutup
kajian, Ustadz Yogi kembali mengingatkan bahwa Ramadhan adalah bulan kemudahan
dan syukur. Puasa bukan beban, melainkan sarana mendekatkan diri kepada Allah
serta memperkuat kesadaran bahwa hidup memiliki tujuan ibadah.
“Semoga Allah memberikan keberkahan dalam rezeki, keluarga, dan kehidupan kita, serta mempertemukan kita dengan Ramadan dalam keadaan terbaik,” tuturnya, sebelum menutup pengajian dengan doa bersama.
