Takwa Harus Ditempuh dengan Ilmu, Akidah, dan Kebersihan Hati
Bojonegoro, Dalam khutbah yang disampaikan di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, Jumat (17/10/2025), KH. Azizi Falaqi yang bertindak sebagai khatib mengajak umat Islam untuk meningkatkan kualitas iman dan takwa melalui tiga tahapan penting: menuntut ilmu, memperkuat akidah, dan membersihkan hati.
Bojonegoro,
Dalam khutbah yang disampaikan di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, Jumat
(17/10/2025), KH. Azizi Falaqi yang bertindak sebagai khatib mengajak umat
Islam untuk meningkatkan kualitas iman dan takwa melalui tiga tahapan penting:
menuntut ilmu, memperkuat akidah, dan membersihkan hati.
Khatib
membuka khutbahnya dengan menyerukan ajakan untuk memperbanyak amal saleh dan
menjauhi larangan Allah. “Mari kita berupaya meningkatkan kualitas iman dan
takwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menjalankan perintah-Nya
semaksimal mungkin,” ujarnya di hadapan ratusan jamaah.
Ia
kemudian mengutip pandangan Imam Ali bin Ahmad al-Malibari dalam karya Hidayatul
Azkiya, yang menekankan pentingnya ilmu dalam setiap amal ibadah. “Ibadah
adalah buah dari ilmu. Tanpa ilmu, amal kita tidak akan diterima di sisi
Allah,” tutur sang khatib, mengutip pula nasihat Ibnu Ruslan dalam nadzam Zubad-nya.
Menurutnya,
umat Islam wajib mempelajari ilmu yang berkaitan dengan tata cara ibadah, mulai
dari salat, puasa, hingga bersuci. “Salat bukan sekadar berdiri dan rukuk. Kita
wajib memahami syarat, rukun, serta tata cara bersuci dengan benar. Termasuk
mengenal macam-macam air yang digunakan untuk wudhu atau tayamum,” katanya.
Selain
ibadah ritual, khatib juga menyoroti pentingnya memahami ilmu muamalah,
terutama dalam praktik ekonomi. “Berdagang pun bisa menjadi ibadah jika
dilakukan dengan cara yang halal dan tidak melibatkan riba. Jangan sampai kita
terjerumus dalam praktik yang dilarang syariat,” ujarnya.
Tahapan
kedua, lanjutnya, adalah memperdalam ilmu akidah agar umat memahami dengan
benar sifat-sifat Allah dan Rasul-Nya. “Akidah yang lurus melahirkan perilaku
yang benar. Sebaliknya, akidah yang sesat bisa menumbuhkan gerakan yang
ekstrem, radikal, bahkan teroris,” tegasnya.
Ia
juga mengingatkan umat untuk waspada terhadap kelompok yang berusaha menjauhkan
masyarakat dari pesantren dan ulama. “Padahal, pesantren dan ulama memiliki
peran besar dalam perjuangan kemerdekaan bangsa ini, baik dalam aspek keagamaan
maupun kebangsaan. Mereka adalah pewaris para nabi dan benteng moral umat,”
ujarnya.
Tahapan
ketiga, menurut khatib, adalah menata hati agar bersih dari penyakit batin
seperti iri, sombong, dan riya. Ia mengutip Imam al-Ghazali dalam Minhajul
Abidin, yang menyebut hati sebagai pusat penilaian Allah terhadap manusia.
“Allah meletakkan akal dan makrifat di dalam hati. Dari sanalah sumber iman dan
kebahagiaan sejati berasal,” katanya.
Khutbah ditutup dengan doa bersama bagi keselamatan umat Islam dan bangsa Indonesia. “Semoga Allah menjaga kita semua, membersihkan hati kita, dan meneguhkan iman dalam diri kita,” tuturnya sebelum mengakhiri khutbah dengan seruan takbir dan salam.