Detail Berita

Tasawuf Sejati Tak Lepas dari Syariat

Bojonegoro — Dalam kajian Subuh di Masjid Agung Darussalam, Ustadz Rifki Azmi menguraikan makna mendalam dari Kitab Al-Hikam karya Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari. Ia menegaskan pentingnya keseimbangan antara aspek lahiriah dan batiniah dalam beragama, yang menjadi ciri khas tasawuf sejati dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, Jum’at (24/10/2025).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro — Dalam kajian Subuh di Masjid Agung Darussalam, Ustadz Rifki Azmi menguraikan makna mendalam dari Kitab Al-Hikam karya Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari. Ia menegaskan pentingnya keseimbangan antara aspek lahiriah dan batiniah dalam beragama, yang menjadi ciri khas tasawuf sejati dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, Jum’at (24/10/2025).

Dalam pengantar tausiyahnya, Ustadz Rifki memanjatkan rasa syukur atas nikmat Allah yang memungkinkan jamaah menunaikan salat Subuh berjamaah dan melanjutkan kajian rutin. “Semoga segala yang akan kita jalani memperoleh ridha dari Allah Subhanahu wa Ta'ala”, ujarnya.

Ustadz muda itu kemudian mengulas kembali pembahasan sebelumnya tentang doa (doa’), yang disebutnya sebagai “ibadah paling murni.” Berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW, ad-du’a mukhkhul ‘ibadah, doa adalah inti ibadah. “Sebab, melalui doa, seorang hamba berusaha menghadirkan sifat-sifat Allah di dalam hatinya,” terang Ustadz Rifki.

Menurutnya, ketika seorang hamba berdoa memohon rezeki, ia sesungguhnya sedang mengakui sifat Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki) Allah. Demikian pula saat memohon ampun, ia menghadirkan sifat Al-Ghafur (Maha Pengampun). Dengan demikian, doa menjadi sarana untuk meneguhkan hubungan spiritual antara manusia dan Tuhannya.

Namun, Ustadz Rifki mengingatkan agar doa tidak dijadikan sekadar alat untuk memenuhi keinginan duniawi. “Doa itu justru sering kita gunakan untuk menuruti hawa nafsu, ingin harta, ingin jabatan, ingin sehat. Inilah yang dikritik oleh para wali,” tuturnya. Ia menukil pandangan Ibnu ‘Athaillah yang menasihati agar manusia tidak menuntut Allah ketika permohonannya belum dikabulkan, tetapi menuntut dirinya sendiri untuk beradab dalam berdoa.

Memasuki inti kajian, Ustadz Rifki membacakan makalah berikutnya dari Kitab Al-Hikam tentang tasawuf sejati yaitu, tasawuf yang mengikuti jejak Nabi Muhammad SAW. “Dzahirnya mengikuti syariat, batinnya pasrah sepenuhnya kepada Allah,” ujarnya.

Ia menjelaskan, orang yang sempurna secara dzahir adalah yang menjalankan perintah Allah: salat, zakat, puasa, membaca Al-Qur’an, serta menjauhi larangan. Sementara kesempurnaan batin terletak pada sikap pasrah, ridha, dan tidak menginginkan sesuatu selain apa yang dikehendaki Allah.

Ustadz Rifki menegaskan bahwa tasawuf dalam Islam tidak boleh lepas dari syariat. Ia mencontohkan, meski dalam tradisi agama lain juga dikenal ajaran spiritual, namun tasawuf Islam berbeda karena berakar pada keteladanan Rasulullah SAW. “Kanjeng Nabi itu memadukan antara dzahir dan batin. Lahirnya beliau salat, berjihad, mengajar, membaca Al-Qur’an; batinnya sabar, syukur, zuhud, tawakal, dan ridha,” paparnya.

Selanjutnya Ustadz Rifki juga mengingatkan bahaya pemahaman menyimpang yang menafikan syariat atas nama spiritualitas. “Ada orang yang mengaku bahwa semua ini adalah kehendak Allah, lalu ia enggan salat. Itulah yang disebut sebagai zindiq”, tegasnya.

Dalam bagian akhir kajian, Ustadz Rifki mengisahkan keteladanan Rasulullah SAW yang tetap menjaga salat berjamaah di detik-detik akhir hidupnya. Begitu pula para wali besar seperti Imam Junaid dan Imam Sibli yang tetap berpegang pada adab syariat hingga menjelang wafat. “Inilah tanda orang yang sesungguhnya telah sampai kepada Allah, telah mencapai kedekatan dengan-Nya, namun tetap menjaga tata krama syariat.” ucapnya penuh haru.

Ia menutup kajian dengan doa dan salawat atas Nabi Muhammad SAW, seraya mengingatkan jamaah untuk meneladani keseimbangan antara dzahir dan batin. “Tasawuf sejati itu tidak meninggalkan syariat. Orang yang mampu memadukan keduanya akan memperoleh anugerah terbesar dari Allah”, pungkasnya.