Tiga Golongan yang Mendapatkan Naungan Allah
Bojonegoro, Jamaah Shalat Subuh di Masjid Agung Darussalam diingatkan tentang pentingnya menjaga wudhu, memakmurkan masjid, serta gemar bersedekah sebagai bekal menghadapi kehidupan akhirat, Selasa (10/2/2026).
Bojonegoro,
Jamaah Shalat Subuh di Masjid Agung Darussalam diingatkan tentang pentingnya
menjaga wudhu, memakmurkan masjid, serta gemar bersedekah sebagai bekal
menghadapi kehidupan akhirat, Selasa (10/2/2026).
Dalam
tausiyahnya, Ustadz Khafif mengutip sabda Nabi Muhammad SAW tentang golongan
manusia yang akan memperoleh naungan Allah pada hari kiamat, saat tidak ada
perlindungan selain perlindungan-Nya. Hadis tersebut diriwayatkan antara lain
oleh Ahmad an-Nasa'i.
“Tiga
golongan yang disebutkan di antaranya adalah orang yang gemar menjaga wudhu,
orang yang tetap melangkah ke masjid meski dalam kegelapan, dan orang yang
memberi makan kepada mereka yang lapar,” ujarnya.
Menurut
Ustadz Khafif, gambaran hari kiamat adalah kondisi yang sangat panas dan berat.
Karena itu, setiap amal yang dapat meringankan perjalanan menuju akhirat
menjadi sangat berharga.
Ustadz
Khafif menegaskan, wudhu tidak hanya berfungsi sebagai syarat sah salat, tetapi
juga memiliki dimensi spiritual. Anggota tubuh yang dibasuh saat wudhu diyakini
akan bercahaya kelak di alam kubur dan padang mahsyar.
“Wudhu
juga menjadi sebab gugurnya dosa-dosa kecil yang dilakukan anggota tubuh,
seperti lisan yang menyakiti atau tangan yang berbuat salah,” katanya.
Ia
bahkan mengaitkan kebiasaan menjaga wudhu dengan kejernihan pikiran dan
kecerdasan. Menurutnya, orang yang istiqamah dalam wudhu memiliki kualitas
ibadah yang lebih terjaga.
Dalam
perspektif fikih, ia mengingatkan pentingnya kesucian (thaharah). Memegang
mushaf Al Quran tanpa wudhu, misalnya, dinilai tidak diperbolehkan. “Al Quran
adalah kalam Allah yang dimuliakan. Ia harus diperlakukan dengan adab dan
kesucian,” ujarnya.
Selain
rukun yang wajib, Ustadz Khafif juga mengingatkan agar sunnah-sunnah wudhu dan
salat tidak diremehkan. Ia mencontohkan keteladanan ulama yang sangat
berhati-hati dalam menjaga kesempurnaan ibadah.
“Kesunahan
kecil jika diremehkan terus-menerus bisa menyeret pada peremehan yang lebih
besar,” katanya.
Ia
juga mengutip pemikiran Al-Ghazali tentang pentingnya memadukan fikih dan
tasawuf agar ibadah tidak hanya sah secara hukum, tetapi juga hidup secara
spiritual.
Dalam
tasawuf, lanjutnya, kualitas ibadah dinilai dari keikhlasan dan adab pelakunya.
Ibadah yang disertai akhlak mulia akan lebih mudah diterima Allah.
Pada
bagian akhir tausiyah, Ustadz Khafif menekankan keutamaan sholawat kepada Nabi
Muhammad SAW. Ia menyebut sholawat sebagai amalan yang paling mudah diterima
Allah.
“Ketika
seseorang bersholawat, Allah tidak memandang pembacanya, tetapi memandang
kepada Rasulullah yang disholawati. Karena itu sholawat menjadi amalan yang
sangat mulia,” ujarnya.
Ia
mengajak jamaah untuk tidak membiarkan hari berlalu tanpa sholawat, bahkan di
sela-sela aktivitas sehari-hari.
Selain
sholawat, sedekah disebut sebagai amalan yang mudah diterima karena memiliki
banyak dimensi: membantu sesama, mempererat silaturahim, dan menghadirkan
kemanfaatan sosial.
“Walaupun
ada kekeliruan dalam niat, kemanfaatan yang lahir dari sedekah tetap membawa
nilai kebaikan,” katanya.
Namun
demikian, ia mengingatkan bahwa seluruh ibadah harus dilandasi ilmu. Ibadah
tanpa pengetahuan yang benar dikhawatirkan tidak sah atau bahkan tertolak.
“Ibadah
harus sesuai syariat. Karena itu, belajar agama menjadi kewajiban agar amal
yang dilakukan benar dan diterima,” tuturnya.
Kajian Shubuh ditutup dengan doa agar jamaah senantiasa diberi keistiqamahan dalam ibadah, dilindungi dari fitnah dunia, serta memperoleh husnul khatimah.
