Detail Berita

Zikir “La Ilaha Illallah” Ditekankan Sebagai Kunci Keteguhan Iman

Bojonegoro, KH. Abdul Aziz Ahmad saat memberikan Kuliah Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, mengingatkan pentingnya membiasakan zikir la ilaha illallah sebagai jalan untuk meneguhkan iman hingga akhir hayat. Ia menekankan, zikir yang dilakukan secara berulang akan menumbuhkan kekuatan hati dan menuntun seseorang untuk wafat dalam keadaan husnul khatimah, Senin, (13/10/2025).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro, KH. Abdul Aziz Ahmad saat memberikan Kuliah Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, mengingatkan pentingnya membiasakan zikir la ilaha illallah sebagai jalan untuk meneguhkan iman hingga akhir hayat. Ia menekankan, zikir yang dilakukan secara berulang akan menumbuhkan kekuatan hati dan menuntun seseorang untuk wafat dalam keadaan husnul khatimah, Senin, (13/10/2025).

“Kalimat la ilaha illallah jangan sampai lepas dari hati kita,” ujarnya di hadapan jamaah. “Kalau terus dibiasakan, lidah kita akan ringan mengucapkannya, dan hati pun menjadi hidup karena terbiasa mengingat Allah.”

Menurutnya, kebiasaan berzikir setelah salat bukan sekadar tradisi, tetapi bagian dari pembiasaan spiritual agar keimanan mengakar kuat dalam hati. Ia mencontohkan bahwa Rasulullah SAW sendiri senantiasa mengulang ayat-ayat tentang iman dalam Al-Qur’an agar nilai keimanan itu menancap dan hidup dalam diri manusia.

“Seperti surat Al-Fatihah yang terus dibaca dalam setiap rakaat salat,” tuturnya. “Pengulangan itulah yang menumbuhkan kebiasaan, dan dari kebiasaan akan lahir keteguhan.”

Dalam ceramahnya, KH. Abdul Aziz Ahmad juga menyinggung pentingnya menjaga amal dari sifat riya atau keinginan dipuji. Menurutnya, amal yang baik hendaknya dilakukan dengan ikhlas tanpa disebarluaskan. “Zaman sekarang, banyak orang gemar menampakkan ibadahnya di media sosial,” katanya.

“Padahal, amal yang sempurna justru yang dilakukan dengan hati yang bersih, tanpa pamrih dan tanpa ingin diketahui orang lain.” Tambahnya.

Ia menegaskan, manusia tidak boleh merasa sombong atau menganggap amalnya besar, karena semua kebaikan hanya bernilai jika diterima oleh Allah. Sebaliknya, amal kecil yang dilakukan dengan penuh keikhlasan bisa menjadi sebab turunnya rahmat Allah.

Mengutip kisah para ulama, ia menyampaikan contoh Imam Al-Ghazali yang mendapatkan kemuliaan bukan karena banyaknya karya, melainkan karena ketulusan hatinya dalam hal kecil, seperti rasa kasih terhadap seekor lalat yang hinggap di tintanya. “Dari perbuatan sederhana itu, Allah mengangkat derajatnya,” ujarnya.