Detail Berita

Zikir Tauhid dan Cinta Rasul sebagai Jalan Keselamatan

Bojonegoro, Zikir la ilaha illallah dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW menjadi tema utama dalam kajian Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Dalam tausiyahnya, KH. Abdul Aziz Ahmad menekankan bahwa tauhid yang tertanam kuat di dalam hati akan menjadi penuntun manusia menuju keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat, Senin, (26/1/2026).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro, Zikir la ilaha illallah dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW menjadi tema utama dalam kajian Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Dalam tausiyahnya, KH. Abdul Aziz Ahmad menekankan bahwa tauhid yang tertanam kuat di dalam hati akan menjadi penuntun manusia menuju keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat, Senin, (26/1/2026).

Kajian diawali dengan ajakan bersyukur atas nikmat iman, Islam, dan kesehatan yang memungkinkan jamaah melaksanakan salat Shubuh secara berjemaah. Menurut Kyai Aziz, nikmat tersebut sering kali luput disadari, padahal menjadi fondasi utama dalam kehidupan beragama.

Dalam tausiyahnya, Kyai Aziz mengutip sebuah hadist Nabi Muhammad SAW tentang seseorang dari umat beliau yang pada hari kiamat telah sampai di depan pintu surga. Namun, pintu surga itu tertutup hingga kalimat syahadat la ilaha illallah datang menuntunnya masuk. Hadist tersebut, menurut Kyai Aziz, menggambarkan betapa agung dan menentukan kedudukan tauhid dalam kehidupan seorang muslim.

“Jangan sampai la ilaha illallah hilang dari hati kita. Kalimat ini bukan sekadar ucapan lisan, tetapi harus hidup dan berdenyut di dalam hati,” ujar Kyai Aziz di hadapan jamaah.

Beliau menjelaskan, zikir la ilaha illallah memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan zikir lainnya. Bahkan secara refleks, tubuh manusia kerap bergerak ketika kalimat tauhid itu diucapkan. Menurut Kyai Aziz, hal itu berkaitan dengan fitrah manusia yang sejak lahir telah dikenalkan dengan kalimat tauhid melalui azan dan iqamah.

“Sejak bayi, manusia sudah dipahat dengan la ilaha illallah. Karena itu, kalimat ini mudah meresap dan menggerakkan hati,” katanya.

Lebih jauh, jamaah diajak untuk terus memperbarui iman dengan memperbanyak zikir tauhid. Iman, menurut Kyai Aziz, perlu dirawat sebagaimana kendaraan yang harus rutin diservis agar tetap berfungsi dengan baik. Rasulullah SAW pun menganjurkan umatnya untuk senantiasa memperbarui iman dengan memperbanyak ucapan la ilaha illallah.

Dalam kesempatan itu, Kyai Aziz juga mengulas hadis tentang bagaimana Rasulullah SAW akan mengenali umatnya pada hari kiamat di tengah umat-umat lain sejak zaman Nabi Adam. Umat Nabi Muhammad, kata Kyai Aziz, memiliki tanda-tanda khusus, di antaranya menerima catatan amal dengan tangan kanan, memiliki bekas sujud di wajahnya, serta cahaya yang memancar dari iman dan amal ibadah mereka.

“Salat itu cahaya, wudu itu cahaya, iman itu cahaya. Cahaya inilah yang kelak menuntun umat Nabi Muhammad di tengah kegelapan hari kiamat,” ujarnya.

Kajian tersebut juga menyinggung besarnya kasih sayang Rasulullah SAW kepada umatnya. KH. Abdul Aziz Ahmad mengisahkan bagaimana Nabi Muhammad SAW tidak ingin masuk surga sendirian sebelum umatnya, serta selalu memikirkan kemudahan bagi umat, mulai dari pengurangan jumlah salat hingga diturunkannya Lailatul Qadar sebagai anugerah besar bagi umat yang berusia relatif pendek.

“Rasulullah adalah sosok yang sangat penyayang dan penuh belas kasih kepada umatnya. Sudah sepantasnya umat Islam mencintai, menghormati, dan meneladani beliau,” kata Kyai Aziz.

Kajian Shubuh tersebut ditutup dengan doa agar jamaah diberi kekuatan iman, kesehatan, umur panjang yang berkah, serta akhir kehidupan yang baik (husnul khatimah). Jamaah pun diingatkan untuk terus mendekatkan diri kepada Allah melalui salat, sujud, dan amal ibadah, agar kelak termasuk umat yang dikenali dan mendapat syafaat Rasulullah SAW.